Sabtu, 11 November 2017

TEORI KONSTRUKTIVISME

Kali ini saya akan membahas bagaimana pentingnya salah satu teori belajar untuk mendongkrak kemampuan matematik logik siswa dalam pengaruhnya dipembelajaran. ya salahsatu teori belajar tersebut adalah teori belajar Kontruktivisme. teori ini sendiri dikembangkan oleh vygotsky. Teori konstruktivisme sendiri adalah salah satu dari banyak teori belajar yang telah didesain dalam pelaksanaan pembelajaran termasuk turut serta dalam pengembangan kurikulum berkharakter yang kini menjadi tren di topik pendidikan Indonesia saat ini.
Seperti yang kita ketahui bahwa teori belajar dibagi 5 yaitu Teori belajar Kognitif, Teori belajar Behavioristik, Teori belajar Gestalt, Teori belajar Humanstik dan  Teori belajar Konstruktivistik

Pada dasarnya teori konstruktivisme sebetulnya mempunyai dua aliran yaitu:
1. Aliran pertama “Kontruktivisme psikologi/radikal” yang lebih bersifat personal, individual dan subjektif , teori ini di bangun oleh Jean Piaget dan pengikutnya. menurut Rosalind Charlesworth 1996 beliau mengatakan
“Piaget placed an emphasis on childeren as intellectual explorers making their own discoveries and contructing knowledge indenpendently”
piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan (hamzah;2001). bahkan piaget menambahkan bahwa manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata yang sering disebut dengan struktur kognitif. dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru, yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi (nik aziz, 1999; rusdy, 2001).
Lalu apakah Asimilasi, asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang dapat mengintergarsikan informasi (perspsi, konsep dan sebagainya) atau pengalaman baru kedala struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang.  contohnya seorang anak yang sudah hafal perkalian ketika mendapatkan sebuah rumus volume balok yaitu V=p x l x t tidak mendapat masalah dalam hal mengkalikan 3 angka sekaligus.
Sedangkan akomodasi yaitu proses mental dimana proses penstruktur skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. (hamzah, 2001). Saya menyebutnya kendala dalam belajar yang berbeda-beda dari siswa. faktor usia, genetis dan kekurangan minat belajar ada dalam ranah ini.
2. Aliran kedua “Kontruktivisme Sosial” . Aliran ini bersifat sosial dan dipelopori oleh Lev Vygotsky. beliau menekankan bahwa interaksi interpersonal membantu memperkembangkan pengetahuan individu. teori inilah yang menjadi dasar pembelajaran rekan sebaya atau setutor. Bagi vygotsky perkembangan kognitif ini bermakna menyelesaikan masalah dengan kerjasama individu yang lain. (Rosalind Charlesworth, 1996).
Prinsip Asas Kontruktivisme
Dalam buku kontruktivisme pengajaran dan pembelajaran matematik dikatakan bahwa teori belajar Kontruktivisme mempunyai dua prinsip asas yang mempengaruhi corak pelaksanaan pendidikan matematik di sekolah-sekolah yaitu:
1. Pengetahuan bukannya diterima secara pasif tetapi dibina secara aktif oleh pihak yang belajar
2. Fungsi kognisi adalah untuk menyesuaikan dan memberi khidmat mengorganisasi dunia pengalaman, dan bukannya melakukan penemuan realiti ontologi (keberadaan sesuatu yang kongkret).
Terlihat sangat dramatis memang, tetapi inilah yang memang diharuskan. Menurut Ng Kim Choy, 1999 guru seharusnya melakukan strukturisasi pelajaran dengan mencabar pelajar dan membantu pelajar menyadari kerelevan kurikulum pada kehidupan mereka. Mungkin hal inilah yang menjadi pemicu kurikulum berkharakter dengan memposisikan pelajaran sesuai dengan kaidahnya.
Dalam paradigma kontruktivisme, murid seharusnya menganggap peranan guru sebagai salah satu sumber pengetahuan dan guru bukan orang yang tahu segala-galanya, tetapi guru seharusnya menjadi fasilitator dan pembimbing bagi murid.
Ciri-ciri pembelajaran berdasarkan teori belajar kontruktivisme melalui empat tahap (hamzah, 2001):
1. Tahap persepsi dimana guru harus mampu mengembangkan konsep awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa
2. Tahap eksplorasi. pelajar diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan , pengorganisasian dan pengintreprestasian data dalam suatu aktifiti yang idenya berasal dari guru
3. Tahap perbincangan dan penjelasan konsep. disini pelajar memikirkan penjelasan dan menyelesaikan yang didasarkan pada hasil pemerhatian dengan bimbingan guru sehingga pelajar dapat membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari
4. Tahap pengembangan dan aplikasi konsep. Disini guru membimbing pelajar membuat rfeleksi dan perbandingan ide lama dan ide baru sehingga dapat membuat pelajar mengaplikasikan pemahamam konseptual baik melalui kegiatan atau yang lainnya.
soal kontr
 Insya Allah bermanfaat.
Sumber : 
https://bangfajars.wordpress.com/2012/12/04/teori-belajar-konstruktivisme-dalam-pembelajaran/
Efandi zakaria,Norazah moh nurdin dan  Sabri ahmad ; kontruktivisme pengajaran dan pembelajaran matematik,  Utusan publication & distributors SDN BHD

Senin, 02 Oktober 2017

TEORI BELAJAR HUMANISTIK

1.     Konsep Dasar Teori Belajar Humanistik
Teori humanistik diterapkan dalam pembelajaran dan menekankan kognitif dan memengaruhi proses.
Teori humanistik membahas kemampuan dan potensi orang-orang saat mereka memilih dan mencari kontrol atas hidup mereka.
Tujuan belajar dari teori humanistik adalah “memanusiakan manusia” agar mampu mengaktualisasikan diri dalam hidup dan penghidupannya.
Belajar berorientasi pada siswa, dan siswa memilki kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya. Pendidikan yang efektif adalah pendidikan yang mengedepankan minta siswa dan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan siswa.
Menurut teori humanistik ini, belajar dianggap berhasil jika siswa mampu memahami dirinya sendiri dan lingkungannya.
Ahli teori humanistik membuat asumsi-asumsi tertentu (Schunk, et al., 2008). Asumsi pertama yaitu bahwa penelitian terhadap seseorang merupakan holistic: untuk memahami orang, kita harus mempelajari perilakunya, pikiran, dan perasaan mereka (Weiner, 1992).
Asumsi kedua ialah bahwa pilihan manusia, kreativitas, dan aktualisasi diri merupakan area penting untuk diteliti (Weiner, 1992).




2.     Karakteristik Teori Belajar Humanistik
1.      Mementingkan manusia sebagai pribadi
Karena menurut pandangan teori humanistik ini, belajar berorientasi pada siswa.
2.      Mementingkan kebulatan pribadi
Maksudnya adalah mementingkan keseluruhan, kesepakatan yang utuh dalam diri pribadi siswa, atau dengan kata lain, mementingkan minat siswa dalam hal belajar, memerhatikan potensi yang dimilki oleh siswa.
3.      Mementingkan peranan kognitif dan afektif
4.      Mengutamakan terjadinya aktualisasi diri dan self concept
Karena tujuan dari teori belajar humanistik ini adalah menjadikan manusia seutuhnya, manusia yang ideal, yang dicita-citakan.
5.      Mementingkan persepsual subjektif yang dimiliki tiap individu
Maksudnya adalah mementingkan dan memahami potensi yang dimilki oleh setiap individu.
6.      Mementingkan kemampuan menentukan bentuk tingkah laku sendiri
7.      Mengutamakan insight (pengetahuan/pemahaman)

3.     Tokoh-Tokoh Teori Belajar Humanistik
1.      Abraham Maslow
Teori Maslow yang menekankan pada motivasi untuk mengembangkan potensi seseorang secara penuh.
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
1)      Suatu usaha yang positif untuk berkembang
2)      Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan
Kebanyakan tindakan manusia menampilkan usaha untuk memuaskan kebutuhan. Kebutuhan bersifat hierarki.
Faktor-faktor yang memengaruhi adanya perbedaan tingkat kebutuhan itu antara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya kedudukan, pengalaman masa lampau, pandangan atau falsafah hidup, cta-cita dan harapan masa depan, dari tiap individu.
Kebutuhan di tingkat yang lebih rendah harus dipuaskan secara cukup sebelum kebutuhan di urutan yang lebih tinggi bias memengaruhi perilaku.
2.      Carl Ransom Rogers
Teori Rogers membahas pembelajaran dan pengajaran.
Rogers (1969) meyakini bahwa orang-orang memiliki potensi alamiah untuk belajar dan mau belajar.
Rogers dan Pendidikan. Rogers membahas pendidikan dalam bukunya Freedom to Learn. Pembelajaran yang bermakna dialami memilki kaitan dengan keutuhan seseorang, memilki keterlibatan personal (melibatkan kognisi dan perasaan pembelajar), diawali oleh diri sendiri (dorongan untuk belajar berasal dari dalam diri, meresap (memengaruhi perilaku, sikap, dan kepribadian pembelajar), dan dievaluasi oleh siswa.
Pembelajaran yang penuh makna berbeda dengan pembelajaran tanpa makna, yang tidak membuat siswa menyatu dengan pembelajarannya.
Kebutuhan individu ada 4, yaitu :
1)      Pemeliharaan
2)      Peningkatan diri
3)      Penghargaan positif (positive regard)
4)      Penghargaan diri yang positif (positive self regard)
3.      Arthur Combs
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bias memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka.
Bersama dengan Donald Syngg (1904-1967), mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (maka atau arti) dalah konsep dasar yang sering digunakan. Untuk dapat mengerti tingkah laku manusia, yang penting adalah mengerti bagaimana duni ini dilihat dari sudut pandangnya. Pandangan ini adalah salah satu dari pandangannya.
4.      Kolb
4        Tahap Belajar :
1)  Tahap pengalaman kongkrit : Seseorang mampu atau dapat mengalami suatu peristiwa atau suatu kejadian sebagaimana adanya.
2)  Tahap pengalaman aktif dan reflektif : Seseorang makin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya.
3) Tahap konseptualisasi : Seseorang sudah mulai berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, atau hukum dan prosedur tentang sessuatu yang menjadi objek perhatiannya.
4)      Tahap eksperimentasi aktif : Melakukan eksperimentasi secara aktif
5.      Honey dan Mumford
4 Golongan orang belajar :
1)  Kelompok aktivis : mereka yang senang melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuanuntuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru.
2)  Golongan Reflektor : Mempunyai kecendrungan yang berlawanan dengan mereka yang termasuk kelompok aktivis.
3)  Kelompok Teoritis : Mereka memilki kecendrungan yang sangat kritis, suka menganalisis, selalu berpikir rasional dengan menggunakan penalarannya.
4)      Golongan Pragmatis : Mereka memiliki sifat-sifat praktis, tidak suka berpanjang lebar dengan teori-teori, konsep-konsep, dalil-dalil, dan sebagainya.
6.      Habermas
Belajar akan terjadi jika adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya.
3 Tipe Belajar :
1)  Belajar Teknis (technical learning) : Belajar teknis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya secara benar.
2)   Belajar Praktis (practical learning) : Belajar praktis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, yaitu dengan orang-orang di sekelilinnya dengan baik.
3)   Belajar Emansipatoris menekankan upaya agar seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau informasi budaya dalam lingkungan sosialnya.
7.      Bloom dan Krathwohl
3 Kawasan yang mungkin dipelajari :
1)      Kognitif : Pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi.
2)      Psikomotor : Peniruan, penggunaan, ketepatan, perangkaian, naturalisasi.
3)      Afektif : Pengenalan, merespon, penghargaan, pengorganisasian, pengalaman.

4.     Prinsip-Prinsip Teori Belajar Humanistik
1.      Manusia memilki kemapuan alami untuk belajar
2.   Belajar menjadi signifikan apabila apa yang dipelajari memiliki relevansi dengan keperluan mereka
3.      Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya
4.    Tujuan belajar dapat lebih diterima dan diasimilasisakan apabila ancaman dari luar itu semakin kecil
5.      Bila ancaman itu rendah terdapat pengalaman siswa dalam meperoleh cara
6.      Belajar yang bermakna diperoleh jika siswa
7.      Belajar lancar jika siswa dilibatkan dalam proses belajar
8.      Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam
9.      Kepercayaan pada diri siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas dirimu
10.  Belajar sosial adalah belajar mengenal proses belajar.

5.     Implementasi Teori Belajar Humanistik
Guru sebagai fasilitator :
ü  Memberi perhatian dan motivasi
ü  Membantu untuk memperoleh dan memperjeas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum
ü  Memahami karakteristik siswa
ü  Mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar
ü  Dapat menyesuaikan dirinya bersama siswanya
ü  Berbaur dengan siswanya, berkomunikasi dengan sangat baik kepada siswanya
ü  Dapat memahami dirinya agar dapat memahami diri sendiri.
Implementasi terhadap Pembelajaran :
a.       Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat.
b.      Guru menerima siswa apa adanya
c.       Evaluasi didirikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa

6.     Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Humanistik
1)      Kelebihan :
·   Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial
·         Siswa merasa senang, berinisiatif dalam belajar
·         Guru menerima siswa apaadanya, memahami jalan pikiran siswa
·         Siswa mempunya banyak pengalaman yang berarti
·     Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri, membantu siswa memahami bahan belajar lebih mudah
·         Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang dan bergairah
·         Terjadinya perubahan pola piker
·     Siswa diharpakan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara tanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang-orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku
·   Siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.

2)      Kekurangan :
·         Bersifat individual
·   Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung
·         Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis
·         Siswa kesulitan dalam mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri mereka
·   Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar
·      Peran guru dalam proses pembentukan dan pendewasan kepribadian siswa menjadi berkurang

·       Keberhasilan proses belajar lebih banyak ditentukan oleh siswa itu sendiri.

Rabu, 06 September 2017

Macam-macam Teori Belajar

Dalam psikologi dan pendidikan , pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan kognitif, emosional, dan lingkungan pengaruh dan pengalaman untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan pandangan dunia (Illeris, 2000; Ormorod, 1995).
Belajar sebagai suatu proses berfokus pada apa yang terjadi ketika belajar berlangsung. Penjelasan tentang apa yang terjadi merupakan teori-teori belajar. Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran. (Wikipedia)


Macam-macam Teori Belajar

Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar, yaitu: teori belajar behaviorisme, teori belajar kognitivisme, dan  teori belajar konstruktivisme.  Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif diamati pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Dan pandangan konstruktivisme belajar sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide baru atau konsep.
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2. Teori  Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif  ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.

3. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.

Kamis, 03 Agustus 2017

Aplikasi Konversi nilai / Mengatrol Nilai secara Adil

Sudah bukan rahasia lagi, hampir semua tenaga pendidik seringkali mengatrol nilai ujian siswa. Karena sebenarnya apabila nilai siswa tidak tidak dikatrol, nilai asli mereka banyak yang di bawah standar atau KKM. Harus kita sadari sesungguhnya nilai pengetahuan siswa pasti berbeda-beda sesuai dengan karakter, IQ bahkan lingkungan. Jadi ketika tenaga pendidik memberi nilai siswa, lihatlah hal lain selain nilai akademiknya. Misalnya nilai kepribadian, akhlak perilaku, kejujuran, kerajinan, sopan santun, rajin dalam beribadah dan sebagainya.
Bila semua itu sudah dilaksanakan namun nilai siswa masih di bawah KKM, karena memang nilai akademik yang kecil, biasanya tenaga pendidik terpaksa mengatrol nilai tersebut. Namun kadang dalam mengatrol nilai, tenaga pendidik bisa jadi kurang adil. Lalu bagaimana cara mengatrol nilai siswa dengan adil dengan menggunakan Ms. Excel?





Anda tinggal memasukan nilai terendah dan tertinggi nilai yang ingin dihasilkan...

Silahkan Download Aplikasinya

Senin, 03 April 2017

Video Pembelajaran Kurikulum 2013 itu…fiksi..??

Dikutip dari https://bangfajars.wordpress.com

Jika anda peserta pelatihan Kurikulum 2013 pasti sudah  melihat video-video yang ditayangkan oleh para tutor bagaimana hebatnya mengajar tematik dengan seru dan dengan anak yang mudah sekali diarahkan. Saat itu juga para peserta akan terheran-heran bagaimana luar biasanya kelas tersebut bisa begitu mudah mengajarkan materi dengan tingkat mengajar yang “high” . Benarkah video itu ? atau hanya sebuah aktor dan para pendukung sesuai arahan sang sutradara Kurikulum 2013? . Pada artikel berikut ini saya akan mengupas tentang video tersebut simak ya..

Pembenaran Kurikulum Baru
Ibaratnya sebuah metode dalam penjualan maka seorang produsen bagian marketing harus mengemas begitu rapi barang dagangannya. Walaupun sebuah produk dagangannya secara empiris akan sulit bersaing dengan produk lainnya tetapi dengan kemasan dan iklan yang bombatis, ditambah dengan jingle yang mudah diingat masyarakat serta pengulangan yang berkali-kali maka setidaknya membuat masyarakat menjadi menerima walaupun awalnya menolak. Setidaknya inilah yang terjadi pada kurikulum 2013, pemerintah “memaksa” agar para guru-guru mengerti kurikulum baru ini. Lengkap dengan puluhan materi ,tugas kelompok  plus video-video pembelajaran.
Khusus pada bagian video pembelajaran kita disodorkan ilusi ilmiah akan kehebatan kurikulum 2013. Benarkah fakta apa yang terjadi dalam video tersebut? saya meyakini bahwa video tersebut adalah film manipulasi dari fakta sebenarnya. Para aktor guru dan murid yang dipandu oleh sutradara dan pastinya dibayar. Pada film tersebut terlihat guru begitu “enjoy” dan siswa yang begitu “penurut” siap diperintahkan. Tidak ada yang “mengambek” seperti lazimnya siswa dikelas satu. Atau tidak ada siswa yang iseng berlari-lari seperti lazimnya siswa kelas 5. Guru begitu semangat mengajar dalam tempo sekitar 30 menit, padahal untuk guru jenjang SD mengajar sampai waktu zuhur bahkan sampai jam tiga sore. Stamina guru yang luar biasa, bahkan untuk ukuran pemain sepakbola saja masih ada “break” dan proses pergantian pemain. Tidak natural seperti pada kelas umumnya.
Dalam buku berjudul Ultimate Classroom Control Handbook karangan Dave Foley dijelaskan bahwa seorang guru pasti akan mengalami kendala dalam pengajaran, baik dalam individu siswa atau kendala dalam kolektif siswa. Bukan hanya anda tapi ribuan dan jutaan guru diseluruh dunia akan mengalami kendala dalam pembelajaran. Untuk segala jenjang baik sekolah negeri atau swasta tidak akan berbeda. Faktanya bukan Kurikulum 2013 yang akan membuat siswa belajar dengan tenang dan mudah diatur seperti dalam video, tetapi manajemen kelas yang baik dan didukung skill guru.
Kita juga harus lebih spesifik dengan peta , lokasi dan persebaran sekolah diseluruh Indonesia, saya yakin setiap guru di Indonesia punya startegi mengajar yang baik dan sesuai dengan “arsitektur” kelasnya masing-masing , tidak bisa apa yang divideo tersebut menjadi “seragam” wajib pengajaran sekolah Indonesia. Video ini memang menjadi propaganda pemerintah agar kita semua guru menelan mentah-mentah kurikulum baru ini, padahal diakui oleh banyak pengamat bahwa kurikulum ini masih “bolong” dimana-mana.
Tematik adalah model pembelajaran bukan strategi pembelajaran
Ada yang salah konsep mengenai video pembelajaran tersebut, sebenarnya apa yang dilakukan oleh guru dalam video tersebut bukan strategi pembelajaran tematik, melainkan model pembelajaran tematik. Tematik bukanlah sebuah strategi tetapi model. Strategi pembelajaran bisa apa saja. Salah satu yang saya suka adalah startegi pembelajaran  Quantum Teaching yang diciptakan Bobby De Porter, saya sendiri akhirnya bisa bertemu perempuan hebat ini ketika seminar di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Beliau mengatakan bahwa Quantum Teaching adalah panduan praktis dalam mengajar yang berusaha mengakomodir setiap bakat siswa atau dapat menjangkau setiap siswa. Metode ini sarat dengan penemuan-penemuan terkini yang menimbulkan antusiasme siswa. Quantum Teaching menjadikan ruang-ruang kelas ibarat sebuah konser musik yang memadukan berbagai instrumen sehingga tercipta komposisi yang menggerakkan dari keberagaman tersebut. Sebagai guru yang akan mempengaruhi kehidupan murid, anda seolah-olah memimpin konser saat berada di ruang kelas.
Sedangkan Model pembelajaran tematik seperti apa yang dikatakan oleh John Dewey sebagai penemu model pembelajaran tematik mengatakan bahwa sebagai usaha mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa dan kemampuan perkembangannya. Kalaupun ada informasi proses pengajarannya dengan menggabungkan pembelajaran menjadi satu tema maka itu hanyalah pendapat dari ahli tematik setelah John Dewey wafat, dalam hal ini seseorang pendidik yang masih fokus terhadap pembelajaran tematik yaitu adalah Robin Fogarty asal USA.
Jadi Jika anda seorang guru lalu mengunakan strategi pembelajarn yang lain (saya mencatat sangat banyak strategi pembelajaran) dan yang berbeda dengan apa yang ada di video kurikulum 2013 maka itu adalah hal yang sah-sah saja. gunakanlah kemampuan strategi pembelajaran anda sesuai dengan peta lapangan (dalam hal ini murid) , yang pasti setiap kondisi kelas dalam setiap kelas, sekolah, daerah, propinsi, kota , negara pastilah berbeda.
Andalah “penguasa” dikelas anda sendiri
Jangan ditafsirkan sebagai sebuah  lampu hijau untuk hal-hal negatif kawan. Maksudnya diatas adalah sebagus-bagusnya sebuah kelas adalah sebuah kelas dimana antara guru dan murid mempunyai hubungan yang baik dalam pelaksanaan pembelajaran, apapun model pembelajarannya dan apapun strategi pembelajarannya jika terjadi harmonisasi dan perpindahan intelektual yang baik antara guru siswa maka kelas itu bisa dikatakan “finish”. Kita juga tidak bisa membandingkan apa yang terjadi disekolah kota dan pedesaan atau bahkan dipedalaman atau mungkin di sekolah diperbatasan. Seorang guru harus “cerdas” dan penuh ide.
Andalah penguasa dikelas anda sendiri, bagaimana dan apa keadaan murid itu sendiri, kapan harus dibagi kelompok atau tidak dibuat kelompok, kapan harus serius dan kapan harus berhenti serius, kapan anda harus bermain peran dan kapan anda harus berdiri tegak berwibawa memberi nasehat. Keputusan itu ada ditangan kalian para guru. Video tematik hanyalah sebuah kamuflase akan apa yang terjadi dinegri ini. palsu. Mereka para pemimpin pendidikan negeri juga tidak pernah mau mengerti dengan apa yang terjadi diruang kelas dan hambatan-hambatan serius guru dikelas. mereka para aktor dan kita lah pemeran sejati pelaksanaan pembelajaran dikelas ini.
Selamat mengajar..

Aplikasi ABSENSI dan Administrasi 2026 /2027

Administrasi diartikan sebagai kegiatan penyusunan dan pencatatan data serta informasi (drafting and recording data + information) secara si...